Daerah

Pemerintah Kubu Raya Gagas Wisata Kampung Bakol Berbasis Kerajinan Tangan

×

Pemerintah Kubu Raya Gagas Wisata Kampung Bakol Berbasis Kerajinan Tangan

Sebarkan artikel ini
Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan meresmikan wisata Kampung Bakol di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap/Foto: humas

KALBARSATU.ID — Pemerintah Kabupaten Kubu Raya saat ini tengah menggagas wisata berbasis kerajinan tangan. Wisata itu dinamai Kampung Bakul.

Baru-baru ini Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan meresmikan wisata Kampung Bakol di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap.

Advertiser
Image
Banner Ads

Kampung Bakol ini digagas menjadi salah ikon wisata baru di Kabupaten Kubu Raya. Khususnya terkait kegiatan kerajinan anyaman bakul yang dilakukan oleh pengrajin.

Selain menjadi ikon wisata, Kampung Bakol menyediakan bahan baku serat alam untuk anyaman. Serta menjadi tempat pelatihan menganyam bakul serta sentra penampungan hasil anyaman bakul dari para perajin, baik yang ada di Desa Sungai Belidak maupun desa dan kecamatan lainnya di Kabupaten Kubu Raya.

Muda Mahendrawan menyebutkan, keberadaan Kampung Bakol tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Kabupaten Kubu Raya pada 2021 mendatang, dimana akan mewajibkan penggunakan besek dan bakul anyaman untuk menggantikan kotak makanan berbahan kertas, styrofoam, dan plastik yang selama ini digunakan.

“Pewajiban itu akan menyasar pada kegiatan-kegiatan di lingkungan kerja Pemerintah Kabupaten Kubu Raya hingga di tingkat desa,” kata Muda Mahendrawan.

“Kita berpikir sederhana, bahwa kotak makanan yang selama ini digunakan baik kertas, styrofoam, maupun plastik itu tidak ada pabriknya di sini. Berarti kan uangnya itu tidak lari ke masyarakat karena pabriknya tidak di sini,” tambahnya.

Maka, kata Muda, ini sekaligus membuka peluang untuk masyarakat. Jadi akan ada penghasilan tambahan bagi warga. Berawal dari situ, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kubu Raya Raya kemudian intens melakukan pelatihan menganyam di berbagai desa.

“Sebab bahan baku yang diperlukan juga cukup melimpah di Kubu Raya,” imbuh Muda.

Muda melanjutkan, kita berpikir yang pasti di depan mata. Memang awal-awal itu sulit. Namanya pelatihan, semua melatih diri.

“Namun insya Allah kalau sudah terlatih itu akan ringan. Inilah proses perjuangan kita masyarakat di Kubu Raya,” ujarnya.

Nantinya, kata dia, jika penggunaan bakul telah masif, maka agenda di masyarakat pun diharapkan juga menggunakan bakul. Sehingga yang terjadi kelak adalah saling membantu antar sesama masyarakat.

“Inilah sebenarnya konsep sederhana di mana masyarakat membantu masyarakat juga. Pemerintah daerah ini hanya memancing, menstimuli supaya bergerak semua. Kami sifatnya hanya menggerakkan semua potensi,” terangnya.

Ia juga menilai kepastian keberadaan pasar sebelum suatu produk diciptakan adalah keharusan. Sehingga memberikan semangat kepada mereka yang memproduksi.

“Karena itu, Perusahaan Umum Daerah (Perusda) nanti akan dibuat pemerintah kabupaten salah satu unit usahanya adalah menampung produk karya masyarakat termasuk bakul anyaman,” terangnya.

Disebutkannya, ada banyak acara di pemerintah kabupaten dan agenda-agenda di desa, kecamatan, dan organisasi. Berapa banyak kebutuhan kotak nasi dan kue.

“Nanti kita juga akan bikin Perusda yang salah satu unit usahanya akan menampung ini. Perusda tidak akan mengambil untung dari sini melainkan hanya menalangi punya masyarakat supaya uangnya bisa berputar,” tuturnya.

Muda berharap pembuatan bakul anyaman juga menjadi opsi baru kegiatan generasi muda desa. Sekaligus upaya membangun mental wirausaha kaum muda.

“Minimal dia sudah bisa punya karakter yang kuat menjadi wirausahawan. Ini latihan mental juga untuk generasi muda,” tukasnya.

Ia juga menilai saat ini ancaman pengangguran makin tinggi. Dengan adanya program pembuatan bakul anyaman, angka pengangguran diharapkan dapat berkurang.

“Dari anak-anak muda bisa kita buat kegiatan yang produktif dan bermanfaat. Apalagi anak muda itu kreatif sehingga nantinya akan muncul karya-karya yang berbeda, tidak hanya buat bakul untuk nasi kotak,” katanya.

Sementara, Ketua Kampung Bakol Desa Sungai Belida, Juliansyah, mengatakan pihaknya telah mengagendakan kegiatan pelatihan menganyam bakul bagi anak-anak muda desa.

“Sebab, saat ini para penganyam rata-rata berusia 40 tahun ke atas,” ujarnya.

“Nah, insya insya Allah awal tahun nanti akan ada pelatihan penganyaman khususnya bagi anak-anak muda Desa Sungai Belidak,” tambahnya.

Ia melanjutkan, selain karang taruna desa, di Sungai Belidak juga ada organisasi Persatuan Anak Sungai Belidak. Para pemuda desa tersebut punya komitmen kuat untuk memajukan desa.

“Khususnya mengangkat apa yang menjadi potensi desa sehingga punya nilai tambah. Sudah dua yang kita punya. Pertama Wisata Religi Darul Fikri, dan kedua Kampung Bakol ini,” katanya.(**)

Menyalinkode AMP