KALBAR SATU ID – Pada peringatan haul ke-16 ulama kharismatik KH Qosim Bukhori, suasana khidmat menyelimuti ratusan santri, alumni, wali santri, dan masyarakat yang memadati Gedung Lapangan Futsal Darma Putra Kalimantan Barat, Sabtu (5/4/26). Dalam kesempatan itu, penceramah KH Muhammad Madarik mengawali tausiyahnya dengan sebuah pertanyaan yang menggugah, “Alasan apa tak percayai guru?” Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk mengingat kembali keteladanan dan keluasan ilmu almarhum kiai yang dikenal sebagai ulama besar di kalangan pesantren.

Putra dari KH Yahya Syabrowi itu kemudian mengisahkan bagaimana kedalaman keilmuan KH Qosim Bukhori diakui para kiai. Salah satu momen yang dikenang adalah ketika beliau membacakan dan menjelaskan kitab Sirodjut Tholibin dalam forum musyawarah kitab wilayah Gondanglegi, Malang. Saat itu, tidak ada satu pun kiai yang hadir mempertanyakan ataupun mengkritisi penjelasan beliau, menandakan tingginya penghormatan terhadap kapasitas keilmuan sang ulama.

“Mari kita ukur Yai Qosim dengan tiga standar ini,” lanjut orang yang dikenal dengan panggilan Gus Mad itu. “Siapa yang tidak tahu pengamalan ilmu Yai Qosim Bukhori, termasuk keistiqamahan beliau. Salah satu konsistensi Yai yang senantiasa dijaga beliau adalah shalat witir sebelas rakaat sekalipun baru datang dari perjalanan.” Lanjutnya.

“Apa alasan Anda masih tidak mempercayai guru Anda? Sebab itu, sambungkan silatur ruh antara jiwa Anda dengan ruh masyayikh melalui dua cara. Pertama, dengan doa. Kedua, tetap menitipkan putra-putranya ke almamater Anda.” Kata salah satu Dewan Pengasuh PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang itu.

Baca juga: HISANIYAH Kalbar Gelar Haul Masyayikh di Pontianak, Hidupkan Tradisi Ngaji Kitab Kuning

Sementara KH Yusqi Qosim menjelaskan bahwa kiai Qosim Bukhori sangat takdzim kepada gurunya. Ketika saya pulang dari silaturahmi kepada KH Yahya Syabrowi, lalu kiai Qosim bertanya, “dari mana?” Saya jawab, “dari paman kiai Yahya”. Mendengar jawaban saya, kiai Qosim Bukhori menyalahkan saya, “jangan katakan paman, beliau itu kiai,” cerita Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah itu.

Sementara itu, Bapak Shonhaji sebagai Ketua Panitia haul akbar KH Qosim Bukhori menegaskan bahwa haul akbar KH Qosim Bukhori ke-16 bukan sekedar agenda rutin tahunan, melainkan sarana untuk memperat hubungan silaturahmi antar alumni, santri dan wali santri.

“Momentum haul seperti ini bukan hanya kegiatan spritual seperti doa, istighatsah, tahlil dan surah Yasin, tetapi juga ajang penguatan kebersamaan antar alumni.” Lanjut Shonhaji yang juga Kepala Desa Kali Bandung, kecamatan Sungai Raya kabupaten Kubu Raya itu.

Menurut Ketua Yasru PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang itu, haul akbar semacam ini diharapkan mampu menjadi pengingat bagi seluruh alumni akan pentingnya menghormati guru, menjaga tradisi, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Rangkaian acara sejak pagi hingga menjelang sore itu ditutup dengan doa bersama Nyai Hj Zainab Qosim yang dilanjutkan ramah-tamah antar alumni. Rasa haru dan bahagia menyelimuti wajah para alumni, karena momen ini tidak saja menjadi perjumpaan antar sesama kawan di satu almamater, tetapi juga peluang emas dapat bertemu dengan para masyakhih PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang.

Menurut Ningwar, salah satu alumni angkatan 1999, kami merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena bisa berkumpul dalam satu majelis dengan para guru sekaligus dapat mempererat tali silaturahmi dengan kawan-kawan sesama alumni yang satu almamater.