Kelompok Masyarakat Menengah ke Bawah Paling Merasakan Dampak Covid 19

  • Whatsapp
Ilustrasi

KALBARSATU.ID – Wabah virus corona atau covid 19 telah memberi dampak buruk terhadap kehidupan manusia. Bukan hanya di bidang kesehatan, namun juga terhadap ekonomi masyarakat. Semua orang terkenak dampaknya, tapi yang sangat merasakan dampak itu adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Katakanlah ojol, pedagang kaki lima, buruh, pekerja harian, pekerja bangunan dan apalagi pengangguran.

Mungkin bagi orang yang terlanjur kaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari tidaklah susah. Namun bagi kelompok masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan, ini adalah musibah berlipat ganda “sudahlah jatuh, tertimpah tangga lagi” sakitnya dua kali.

Pemerintah dalam kasus ini sudah sangat reaktif. Berbagai upaya telah dilakukan. Baik pembatasan aktivitas maupun kebijakan mensubsidi masyarakat terdampak Covid 19. Pembatasan aktivitas sosial dalam upaya mencegah penularan virus. Sementara mensubsidi  merupakan bagian membantu masyarakat terdampak secara ekonomi.

Sejauh ini Covid 19 belum juga ada tanda-tanda akan berakhir, bahkan terus menunjukkan peningkatan. Hasil penelusuran penulis yang dikutip dari Kompas, jumlah pasien kasus corona di dunia, hingga Sabtu (18/4/2020) mencapai 2.261.425 kasus, dengan jumlah kematian 153.822 orang dan jumlah pasien sembuh sebanyak 568.343 orang.

Sementara CNN hingga Sabtu (18/4/2020) mencatat jumlah pasien yang positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia mencapai 6.248, dengan jumlah kematian 535 dan sembuh sebanyak 631 orang.

Kondisi itu, tentu memberi dampak buruk terhadap negara diberbagai sektor kehidupan. Imbas dari dampak Covid-19 yakni mengakibatkan lesu nya ekonomi dunia bahkan nasional. Mulai dari nilai tukar rupiah yang melemah terhadap Dolar, ribuan pekerja terkena PHK hingga terhentinya perputaran dunia usaha.

Tempo.co mencatat pada Kamis, 16 April 2020 nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah menjadi Rp 15.787 per dolar Amerika Serikat.

Sementara datadata.co.id mencatan bahwa berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan, ada 2,8 juta pekerja terdampak langsung akibat Covid-19. Mereka terdiri dari 1,7 juta pekerja formal dirumahkan dan 749,4 ribu di-PHK. Selain itu, terdapat 282 pekerja informal yang usahanya terganggu dan terdapat 100.094 pekerja migran Indonesia (PMI) yang berasal dari 83 negara pulang ke tanah air.

Bak menelan pil pahit, walau tidak enak harus ditelan. Konsikwensi yang harus diterima dari kondisi ini, tentu adalah dampak krusial terhadap masyarakat. Kondisi darurat Covid 19 ini akan menciptkan OMB (orang miskin baru). Siapa yang berpotensi menjadi OMB?

Menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal, yang dikutip penulis dari detikcom, wabah Covid 19 setidaknya akan mengakibatkan 67 juta penduduk Indonesia terancam jatuh miskin bila wabah ini tak segera tertangani. Mereka itu adalah golongan masyarakat golongan hampir miskin dan rentan miskin. Artinya bila golongan tersebut sampai menyentuh garis kemiskinan, jumlah masyarakat miskin di Indonesia otomatis bertambah drastis.

Mengenali Kelompok Masyarakat Miskin

Kelompok masyarakat miskin bisa diukur berdasarkan pendapatan Individu per kapita setiap bulannya. Bila mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), orang bisa disebut miskin atau tidak, apabila pendapatannya kurang atau lebih dari Rp 440.538/bulan.

Dikatakan sangat miskin bila pendapatan masyarakat kurang dari Rp 440.358/bulan. Bila setara dengan batas garis kemiskinan itu tergolong masyarakat miskin, dan bila pendapatannya Rp 440.358 – Rp 528.646/bulan, makan tergolong masyarakat hampir miskin. Kemudian orang berpendapatan Rp 528.646 hingga Rp 704.861/ bulan adalah kelompok masyarakat rentan miskin.

Melihat situasi saat ini, tampaknya boleh kita menduga, kelompok-kelompok orang dengan status ekonominya yang desebutkan di atas akan bergeser lagi angkanya ke paling bawah. Yang rentan miskin akan menjadi miskin, yang hampir miskin sudah pasti miskin dan yang sangat miskin bisa jadi nasibnya akan sangat tragis.

Dampak buruk bila kemiskinan bertambah

Angka peningkatan jumlah orang miskin sudah tidak bisa dihindari lagi. Akibat wabah virus covid 19, jelas akan berimbas terhadap kesenjangan kehidupan sosial masyarakat. Bukan hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan namun lebih dari itu, akan berimbas terhadap kehidup sehari-sehari, baik ekonomi maupun pola hidup masyarakat.

Yang paling mungkin, bila jumlah orang miskin itu bertambah, maka sudah pasti negara terbebani. Kemungkinan lain misalnya kondisi ini juga akan diikuti peningkatan kriminalitas, pengangguran, kurang gizi, anak putus sekolah, dan lainnya yang berpotensi mengarah pada potensi buruk lainnya.

Lantas Apa yang harus dilakukan negara?

Virus Covid 19 memiliki dampak buruk terhadap kesehatan bahkan juga bisa berujung pada kematian. Maka segela upaya menghindari itu, diambilah  kebijkan mulai dari pembatasan sosial seperti penutupan tempat usaha,   PSBB bahkan juga sudah berhembus bahwa kebijakan lock down harus diambil untuk mencegah Covid 19.

Berbagai kebijakan yang diambil negara itu semua memiliki potensi resiko. Resikonya sama-sama besar, yang bisa mengakibatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat memburuk. Resiko yang dimaksud adalah berhentinya perputaran dunia usaha, pengangguran semakin meningkat, diikuti kriminalitas, akhirnya agenda pembangunan negara terganggu.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan negara, ditengah kedilemaan itu? Yang harus dilakukan ialah harus secepat mungkin menemukan obat penangkal virus itu, tidak ada pilihan lain jika ingin kondisi sosial masyarakat ingin kembali normal dan kondisi negara tak ingin memburuk.

Bahkan negara jika perlu membuat sayembara, kepada seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki kemampuam untuk melakukan uji coba dan menemukan obat penangkal virus Covid 19. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis: Zubairi