Terkini

Selain Aktor Warkop DKI Dono Juga Aktivis yang Ikut Aksi Malapetaka 17 Januari

151
×

Selain Aktor Warkop DKI Dono Juga Aktivis yang Ikut Aksi Malapetaka 17 Januari

Sebarkan artikel ini
%Kalbar Satu%
Istimewa

KALBARSATU.ID – Selain Aktor Warkop DKI Dono Juga Aktivis yang Ikut Aksi Malapetaka 17 Januari (Malari). Menyebut naman Dono pasti tak asing lagi bagi kita semua.

JIKA tidak mengenal Komedian Dono atau bernama lengkap Drs. H. Wahyu Sardono bukan pecinta Komedian Indonesia namanya.

Advertiser
Image
Banner Ads

Sebab bukan hanya era 80 an namun hingga saat layar-layar televisi kerap dihibur aksi kocaknya.

Jika berbicara Warkop DKI pasti nama yang lekat trio sekawan yakini Dono, Kasino dan Indro. Dari ketiganya itu siapa sangka pria yang dikenal Dono atau yang memiliki nama lengkap Drs. H. Wahyu Sardono merupakan dosen Sosiologi Universitas Indonesia (UI).

Selain komedian bahwa almarhum adalah seorang dosen dibenarkan oleh putri sulung dari Almarhum Kasino.

“Dono adalah sosok seniman yang cerdas. tidak heran jika kecerdasan amlarhum menurun ke anak kedua Dono yakni Damar Canggih Wicaksono,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa damar menyelesaikan studi S2 di Swiss dan S3 ahlik Teknik Nuklir di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Swiss.

Pria kelahiran Solo 30 September 1951 ketika masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia.

Dono bersama anggota warkop lainnya yang saat itu masih ada Kasino dan Nunu turut serta dalam aksi 1974, peristiwa itu dikenal dengan Malapetaka 17 Januari atau yang biasa disebut Malari.

Dono memperlihatkan kepeduliannya saat ikut berdemonstransi dengan mahasiswa meskipun telah menjabat sebagai dosen UI.

Menurut pengakuan wartawan senior Budiarto shambazy, Dono berani menghadang tentara yang menyerbu kampus Universitas Katolik Atmajaya, Semanggi Jakarta.

“Pada remofrmasi 1998, beliau termasuk orang yang berperan besar ikut menyiapkan terms of reference untuk seminar, mengatur kunjungan ke DPR hingga menyiasati demo-demo mahasiswa,” ungkapnya.

Bukti bahwa Dono memang bukan pelawak biasa ia juga menulis novel. ada sekitar 4 novel yang ditulis olehnya dengan judul Cemara-Cemara Kampus (1988), Bila Satpam Bercinta (1999), Dua Batang Ilalang (1999), dan Senggol Kiri Senggol Kanan (2009).

Dua Batang Ilalang merupakan novelnya yang laris. Ditulis di sela-sela aktivitasnya menjadi pejuang reformasi ’98, setting dan ide cerita diambil tidak jauh-jauh dari sana.

Ia menciptakan karakter utama sebagai mahasiswa yang ikut turun aksi sehingga dikeluarkan dari kampus. Hal-hal yang ia tulis sebenarnya sangat dekat dengan kondisi sosial yang ada sehingga sangat mengena ketika dibaca.

Itulah sisi lain Dono “Warkop” sang pelawak kondang tanah air yang bisa membuat netizen sekalian terkaget- kaget.

Pasalnya, fakta-fakta Dono di atas belum banyak muncul ke permukaan. Publik hanya mengetahui sosoknya sebagai seorang yang humoris.##

Berlangganan Udpate Terbaru di Telegram dan Google Berita
Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP