Terkini

Tidak Masuk Akal, Jembatan Bambu Senilai Rp 200 Juta, Ini Penjelasan Pemkab Ponorogo

105
×

Tidak Masuk Akal, Jembatan Bambu Senilai Rp 200 Juta, Ini Penjelasan Pemkab Ponorogo

Sebarkan artikel ini
%Kalbar Satu%
Viral Sebuah Jembatan terbuat dari bambu di Kabupaten Ponorogo. Jembatan itu menjadi sorotan tajam nitezen, pasalnya pembangunannya jembatan itu menghabiskan dana Rp 200 juta. 

KALBARSATU.ID – Viral Sebuah Jembatan terbuat dari bambu di Kabupaten Ponorogo. Jembatan itu menjadi sorotan tajam netizen, pasalnya pembangunannya jembatan itu menghabiskan dana Rp 200 juta. 

Jembatan tersebut menghubungkan dua Desa, yaitu Desa Pandak dan Desa Bulak.

Advertiser
Image
Banner Ads

Merespon hebohnya jembatan itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Ponorogo, Jamus Kunto menjelaskan tentang jembatan anyaman bambu senilai Rp 200 juta yang viral di media sosial.

Ia mengatakan awalnya warga meminta jembatan yang menghubungkan dua desa di Ponorogo tersebut direhab.

“Jembatan tersebut posisinya rendah dan memicu banjir saat air sungai meluap. Selain itu jembatan itu hanya hanya memiliki lebar 2 meter,” katanya seperti dikutip dari Kompas.com, Minggu 2020.

Setelah menerima usulan warga, Bappeda meminta DPUPR menghitung kebutuhan anggaran pembangunan jalan tersebut. Setelah dihitung kebutuhan anggaran untuk rehab jembatan tersebut sekitar Rp 500 juta hingga Rp 600 juta.

Namun anggaran yang tersedia saat itu hanya Rp 200 juta saja.

Hal tersebut disampaikan ke pemerintah desa dan mereka setuju pembangunan jembatan dilakukan secara bertahap.

Anggaran Rp 200 juta itu kemudian digunakan untuk pembangunan pondasi jembatan bagian kanan dan kiri. Pembangunan pondasi tersebut sudah diselesaikan di tahun 2020.

Setelah pondasi jembatan selesai dibangun, warga di Desa Pandak dan Desa Bulak memiliki inisiatif patungan untuk membuat lantai jembatan dengan bahan anyaman bambu sehingga jembatan itu untuk sementara dapat dilewati sepeda motor, sepeda dan pejalan kaki.

“Pembangunan jembatan itu merupakan aspirastif dari legeslatif  desa setempat. Pembangunan jembatan itu atas permintaan warga karena kondisi jembatan sudah lama,” kata Jamus yang kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2020).

Meski berbahan anyaman bambu, ia mengatakan jembatan tersebut aman untuk dilewati sepeda motor, sepeda dan pejalan kaki. Apalagi kanan kiri jembatan dipasang pagar berbahan bambu.

Jamus menyatakan dari sisi teknis tidak ada persoalan bila pembangunan jembatan dilakukan secara bertahap.

“Pembangunan pondasi tidak akan mengganggu konstruksi. Untuk kelanjutan proyek itu menjadi kewenangan selaku opd perencana pembangunan. Diharapkan kelanjutan pembangunan jembatan ini akan dilakukan tahun depan,” kata Jamus.##

Berlangganan Udpate Terbaru di Telegram dan Google Berita
Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP