Mengembara ke Pesantren

  • Whatsapp
Penulis: Ach Yani
Penulis: Ach Yani

KALBARSATU.ID – Setelah lebaran Idul Fitri selesai, hampir setiap hari aku habiskan nafasku bersama senja hari. Sudah seminggu ini pikiranku terbenam-hilang seperti pengembara yang dihimpit resah memilih arah perempatan jalan. Tidak ada orang untuk dimintai pertanyaan untuk sekedar menunjuk jalan. Tidak ada map dan penunjuk arah yang dituju. Ploga-plongo menatap arah tanpa berani mengambil keputusan. Sementara aku tak membawa peta. Kepalaku gersang, jantung menghambar, serasa diterjang angin badai kebingungan, hendak kemana kaki ini diarahkan.

Satu-persatu teman-temanku pergi, ada yang bekerja ke luar negri mencari kehidupan menafkahi dirinya sendiri dan keluarganya, menikah meninggalkan kampung halaman, mengadu nasib di daerah baru serta ada yang meninggal sebab kecelakaan balapan liar dan tawuran saat di sekolah dan jalanan. Mereka hilang satu demi satu. Mencari warna dirinya yang baru. Laiknya dedaunan yang menguning berguguran hilang ditelan malam yang lebih hitam dari pada gegelapan. Sementara aku masih tetap merasa diam di tempat, seperti orang yang tak bergerak, tidak berubah, patah langkah dan kehilangan arah.

Bacaan Lainnya

“Nggak usah mikir yang aneh-aneh” sambar ibuku yang kian kesal melihatku beberapa hari merenung diri. “Ini biar ada kerjaan” lanjutnya memberikan sapu halaman.

Dulu, aku melihat senja dengan panorama yang gemulai, nampak asyik-masyuknya terekam saat mau tenggelam dan hangatnya begitu tertanam sekalipun angin malam mencekam-genggam. Sembari menyapu halaman, melihat reranting patah berjatuhan, mengeropos, daun-daun menguning berserakan diterjang angin dan sebagian lenyap terkubur bersama tanah liat. Aku masih saja gemetar melihat nasib diri yang tak lama lagi akan seperti patahan-patahan ranting dan daun-daun yang berguguran.

“Sudah selesai” tanya kakak perempuanku yang baru pulang kuliah.
“Sebentar lagi” jawabku kesal.
“Nanti malam kita bicara, jam 8 malam. Supaya pembicaraannya lebih hening”. Sembari mengibaskan kerudung pink kesukaannya, memalingkan muka masuk rumah.

Namanya Musrifah, Dia baru memulai semester satunya di jurusan psikologi. Seorang kakak yang hampir tidak pernah memberikan perhatiannya kepadaku. Hampir setiap hari kita bertengkar dengan hal-hal yang sepele seperti, memilih Chanel TV, pekerjaan rumah, barang miliknya yang tidak boleh disentuh dan hampir setiap hari ada saja pemicu persoalan yang memancing pertengkaran. Sembari menyapu, sekilas aku melupakan resahku dengan beralih ke resah yang lain. Apa gerangan kakak mengajak bicara? Padahal, sebelum-sebelumnya Ia selalu menatapiku melotot disertai mata kebencian? Entahlah, kecemasan selalu saja begitu, menitipkan kesan-kesan kejutan secara dadakan. Sehingga melihat sesuatu seolah-olah serba keanehan.

Memang aneh! Seminggu Ia menginap di rumah nenek, tiba-tiba mengajak bicara. Seminggu ini memang kuhabiskan waktu senjaku merenungi cahaya kekosongan, pikiran dan jiwaku melayang sementara fisik masih saja di atas kursi depan rumah, tepat di halaman dikelilingi bunga-bunga hasil dari hiasan kakakku yang belum aku tahu namanya masing-masing selain mawar dan melati. Kita memang tidak pernah sama dalam keinginan kecuali dalam hal minta uang jajan dan jalan. Itulah sebabnya tak ada tegur sapa, tidak mau akur meski saudara, tanpa perhatian bahkan, kita seperti orang lain. Lagi-lagi, aneh tiba-tiba mengajak kompromi dan bicara. seakan ada syetan bosan dengan kejahatan manusia yang sudah bisa dilakukan sendiri tanpa di rayu, bahkan kalah dalam meracik video beradegan dewasa.

Angin sepoi-sepoi sudah mulai pincang, mega mulai berias diri menyelimuti kemerahan, bunga mulai berteriak meminta cahaya, sementara aku perlu membasuh diri dari keringat kekecewaan, kegelisahan dan debu-debu dari masa lalu dengan ketenangan. Malam pun berkumandang, burung-burung berjemaah berpulang menuju sarang yang dililit hitam, namun aku masih belum berpulang sebab pikiranku terasa masih belum berpergian.

“Ahmad” suara itu masuk ke kamarku.
Tanpa membalas jawab, sambil memasang kopiah aku menuju ruang tamu. Padahal, aku tidak begitu suka berkopiah sebagaimana tidak begitu senang dengan sholat. Ya sudahlah, Sore tadi dan malam ini tidak hanya diriku yang mengalami keanehan, tapi juga orang-orang sekelilingku.

“Sebaiknya kamu mondok” tegas kakak sembari meminum air jeruk memungut segarnya, “paman menawarkan begitu. Minggu depan beliau akan kembali ke pesantren bersama beberapa anak yang akan mondok” lanjutnya.
“Loh” rasa kagetku tersentak.
Belum aku lanjutkan keherananku, HP bapak berdering. Tidak langsung diangkat, beliau bawa ke luar untuk berbicara.
“Ini hanya saran, bisa ditolak. Biarkan aku bicara dulu sebelum disela”. Wajahnya mulai serius.
“Tadi siang bapak telfon menceritakan tingkah lakumu beberapa hari ini yang aneh. Setahuku, kamu jarang di rumah. Pulang-pergi ketika perlu. Waktumu habis dilapangan bulu tangkis, sepak bola di markas gerombolan nggak jelas, di jalan dan balapan nggak berfaedah. Masa depanmu mau dikemanakan? Paman menghawatirkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan tanpa tujuan itu”
“Tapi, aku nggak setuju dengan saran mondok” sergah ibu dengan nada ragu, “sepupumu, surkimin sekarang ini nggak benar gara-gara pulang dari pondok”
“Ya tergantung orangnya Bu” rayu kakakku.
“Kenakalan adik dan sepepumu nggak jauh beda. Saat di pondok, dia dihukum keras, dipukul pakek kayu dan direndam dikolam tengah malam karena mencuri uang salah satu temannya. Lalu kabur tanpa sepengetahuan pemilik pondok. Sepulangnya di rumah, bapaknya mukul dengan bambu secara kasar”.
“Sebenarnya aku ingin anakku nyantri”, sambar bapak dari luar menuju kursi ruang tamu,”melihat pamanmu baik dan pinter, bapak menjadi iri karena dulu nggak mau dipondokkan. Lagi pula pondoknya kan di Malang, di luar pulau, nggak mudah kabur”.
“Anaknya pak Syadzilli 2 tahun lalu juga kabur, di Malang juga”. Tetap saja ibu mengungkapkan ketaksetujuan.
“Aku takut anakku kualat. Lebih baik menghindar daripada mencoba, terus gagal”. Lanjut ibuku.

Ada cahaya sepeda motor menyorot ke dalam rumah, paman Junaid, saudara bungsu bapak tampak dari kaca jendela ketika mematikan sepeda motornya. Berucap salam masuk dalam rumah, bersalaman mencium tangan bapak dan ibu, kecuali aku dan kakak yang mencium tangan beliau saat bersalaman.

“Saya mau pamitan, sebab keberangkatan pesawatnya dipercepat 3 hari lagi, 4 hari akan datang, kegiatan santri sudah akan dimulai”. Paman Junaid melanjutkan pembicaraan kami yang barusan terpotong.
“Apa mau ikut ke Malang”? Dengan nada bercanda.
“Tapi, kalau nggak keberatan sih”.
Ibu beranjak dari tempat duduk menuju dapur. Salah satu tradisi kami menghargai tamu adalah memberikan kopi atau teh sebagai penghormatan. Sekalipun aku beranggapan ibu kurang nyaman berbicara terbuka dengan paman.

“Di Malang ada tempat yang menarik” canda rayunya.
“Bisa main bola, tempat liburan mendaki gunung banyak, apalagi pantai, nggak kehitung, air terjun, belum lagi tempat wisata rekayasa manusia yang bermacam-macam. Tapi, pas waktu liburan saja yang boleh. Hehe”.
Kabarnya pamanku yang satu ini agak berbeda dari saudara-saudara bapak yang lain. Dia lebih humoris. Cara berbicaranya memang seolah-olah bercanda, tapi khas keseriusannya ada pada saat bercanda itu. Ringan dan tenang ketika berbicara. Yang lain, bercanda benar-benar murni sebagai canda yang tidak perlu diseriusi.
“Semuanya terserah kamu sih”. Lanjutnya.

“Setahu saya” paman menghela nafas, “orang itu, senang dengan hal-hal yang baru, baik itu tempat, keadaan serta mencari kenyamanan dalam hidup. Yang jelas di sana ada pengalaman baru dan dunia yang baru. Sekalipun kamu juga sulit meninggalkan hal-hal lama yang sudah membuatmu nyaman seperti; berteman dengan ini, bermain ini, di tempat nyaman ini dan seterusnya. Kesulitannya hanya dalam proses agar bisa nyaman di tempat baru. Sekarang merasa nyaman dan bahagia berada di sini, itu kan karena dulu sudah kamu mulai sehingga sekarang nyaman. Makanya di sana, di dunia baru itu harus di mulai, supaya nanti kamu merasa nyaman juga seperti di sini terutama kehidupan baru di pesantren. Pikirkan saja dulu, jangan buru-buru!”.

Kopi untuk paman sudah datang. Mereka sudah membicarakan topik yang lain. Sepertinya aku perlu merebahkan diri memikirkan tawaran paman yang sebelumnya ibu ragukan. Yang ibu takutkan sebenarnya kenakalanku yang justru merambah ke tempat lain. Andai saja setiap anak yang di taruh di pesantren pasti baik, tentu saja ibuku tak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Waktunya 3 hari, mengambil keputusan memaksaku lebih cepat.

Pintu aku tutup rapat. Hingar-bingar jalan dan suara perbincangan keluargaku sudah tak terdengar. Antara hening dan pening menyelimutiku. Sorot wajah keluarga, saudara, teman dan kekasih melintas bak tali layangan yang semerawut. Pikiranku lelah mencari arah beberapa hari ini, perlu sejenak mengistirahatkannya. Malampun menyelimutiku dengan “takdir dari cahaya masa depanmu berpulang pada keputusanmu hari ini”.
Semenjak itulah aku merasa hidupku berubah.

Cerpen
Penulis: Ach Yani

Langganan Berita Via Whatsapp

Pos terkait