Bedah Buku Perempuan Kesetaraan dan Takdir, Lina: Harus Dibentengi Dengan ilmu

  • Whatsapp
Bedah Buku Perempuan Kesetaraan dan Takdir, Lina: Harus Dibentengi Dengan ilmu
Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Peniraman Kabupaten Mempawah menggelar bedah buku di Aula Kampus II Pondok Pesantren Darut Tholibin Peniraman, Sabtu (03/04/2021).

MEMPAWAH, KALBAR SATU — Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Peniraman Kabupaten Mempawah menggelar bedah buku di Aula Kampus II Pondok Pesantren Darut Tholibin Peniraman, Sabtu (03/04/2021).

Kegiatan bertajuk “Realita Gender Dalam Buku Perempuan, Kesetaraan Dan Takdir” yaitu membedah buku dari penulis asal Pontianak, Linawati Mahasiswi IAIN Pontianak dengan buku ke-4 nya yang berjudul “Perempuan Kesetaraan dan Takdir.”

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini menghadirkan Dosen UNU Peniraman sebagai pembedah buku, Dhofir ,S,s.M.Pd, penulis buku dan diikui 40 mahasiswa akademik dan non akademik.

Dhofir mengatakan buku Perempuan Kesetaraan dan Takdir tersebut merupakan buku paket lengkap. Menurutnya isi cerita dalam buku ini merupakan bukti nyata keadaan perempuan pada zaman 4.0 ini.

“Cerita dalam buku ini sangat real. Paket lengkap karena menyuguhkan fakta politik, kondisi pendidikan, ekonomi, dan romace terangkum dalam satu buku,” ujar Dhofir.

Sementara, Penulis buku tersebut, Linawati menerangkan bahwa dirinya mengangkat buku ini sebagai bukti sejarah, mengenai bagaimana kondisi perempuan perkotaan hingga pedesaan menikmati kesetaraan.

“Keterkekangan perempuan karena faktor ideologi pemisahan tugas berdasarkan jenis kelamin yang digiring menjadi sebuah budaya,” kata Lina.

Ia mengungkap bagaimana pemikirian tokoh feminis Fatimah Mernissi mengkorelasikan antara perempuan dalam islam mendapatkan kesetaraannya dalam bidang pendidikan, ekonomi dan politik.

“Perempuan berhak mendapatkan kesetaraannya, namun ia juga dibatasi oleh hukum keluarga yang mana jelas perintahnya dari Allah tentang porsi laki-laki dan perempuan dalam ranah rumah tangga,” terangnya.

Lina memaparkan perjalanan ia menulis karena mengaplikasikan paham tentang kewajiban mencari ilmu dan menyampaikan ilmu. Yang mana cara yang ia ambil adalah dengan cara menulis.

Menurutnya orang yang berilmu cenderung siap menerima kenyataan apabila terjadi kemungkinan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.

“Teruatama perempuan harus dibentengi dengan ilmu dan sikologis yang kuat agar tak terpuruk pada realita yang tak sesuai keinginannya,” tambahnya.

Harapan dari adanya kegiatan bedah buku Perempuan Kesetaraan dan Takdir ini selain untuk mengupas bagaimana hasil tulisan dari buku ini. Juga sebagai edukasi kepada peserta bedah buku.

Baik perempuan maupun laki-laki agar mellek akan realita betapa penting dan berharganya kesetaraan dan paham akan takdirnya. #

Pos terkait

Tinggalkan Balasan