KALBAR SATU ID – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar memberikan dukungan kepada para Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari 6 Kabupaten di Kalimantan Barat berupa pelatihan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hasil hutan bukan kayu khususnya pada produk madu kelulut.
“Pelatihan dilakukan agar peternak madu kelulut yang berada di sekitar kawasan hutan bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan usaha sehingga bisa membantu meningkatkan pendapatan keluarganya tanpa harus merusak hutan,” ujar Setiyo Haryani, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat DLHK Kalbar usai membuka pelatihan. Rabu (18/2/2026).
Kegiatan pelatihan merupakan bagian proses dalam Pelaksanaan Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Provinsi Kalimantan Barat” dengan sumber pendanaan berasal dari Results-Based Payment (RBP) REDD+ GCF Output 2 untuk Periode 2014-2016. Pendanaan disalurkan melalui Lembaga Perantara (Lemtara) Bentang Kalimantan Tangguh.
Menurutnya, Kalbar memiliki cukup banyak kelompok peternak madu kelulut, sehingga ini menjadi penting untuk diorganisir secara kolaboratif dan terintegrasi maksimal sehingga pengembangan madu kelulut benar-benar berdampak positif baik bagi masyarakat yang butuh hidup sehat.
“Dan tentunya untuk peternak madu kelulut dari KUPS bisa meningkat kesejahteraannya,” kata dia.
Pelatihan tersebut bertujuan agar peserta memiliki mental entrepreneur sebagai pengelola KUPS, kemampuan yang mumpuni dalam manajemen usahanya sehingga semakin profesional serta memiliki kemampuan teknis dalam menciptakan madu kelulut yang berkualitas.
“Harapan kami, peserta bisa mendapatkan tambahan pendapatan tanpa harus merusak lingkungan, tanpa harus merusak hutan yang ada sehingga hutan tetap lestari,” katanya.
Sementara itu, Hario Pamungkas, Staf KPH Melawi menceritakan proses pendampingan dan pengembangan madu kelulut yang telah dilakukan oleh KPH Melawi.
Menurutnya, sejak 2020, KPH Melawi sudah aktif melakukan pendampingan pengembangan madu kelulut di berbagai desa yang ada di wilayah kerja KPH Melawi. Banyak tantangan dalam pengembangan madu kelulut.
“Namun tantangan merupakan bagian dari proses untuk mencapai sukses,” katanya.
Sedangkan, Syf. M. Syaifudin yang akrab dipanggil Syaiful yang menjadi salah satu instruktur menambahkan, kelulut diberbagai daerah di Indonesia penyebutannya juga berbeda sehingga ini juga menjadi tantangan dalam upaya pemasaran madu kelulut di pasar nasional maupun internasional.
“Kalbar mesti kompak dalam penamaan atau penyebutan madu kelulut dengan branding Madu Trigona Kalbar agar lebih mudah dikenal dipasar nasional dan internasional,” kata dia.
Pengembangan kelulut atau trigona di Kalbar menurutnya sangat baik dan memiliki beberapa keunggulan, antara lain mudah beradaptasi dengan baik, produksi lebih konsisten di setiap bulannya, kualitas dan khasiat madu jauh lebih unggul, lebah tidak mudah bermigrasi atau kabur.
“Mudah dibudidayakan dan perawatan, serta hasil madu dapat masuk di pasar industry;” ujar Syaiful yang juga Owner Madu Syaiful ini.
Untuk memperkuat manajemen usaha, selain peserta diajak sharing tentang usahanya diharapkan kedepan kata dia, peserta belajar tentang manajemen produksi, manajemen keuangan, menyusun skema hulu hilir tuntas dalam pengembangan usaha madu kelulutnya masing-masing.
“Sehingga mulai dari produksi hingga pemasaran, peternak kelulut tidak memiliki masalah yang serius dan merugikan secara signifikan,” katanya.
Instruktur lainnya, Trino menekankan bahwa madu kelulut sebenarnya punya pasar yang bagus, mengingat trend masyarakat saat ini banyak yang ingin hidup sehat secara alami, maka madu kelulut adalah solusinya.
“Kuncinya adalah bagaimana peternak madu kelulut bisa memiliki produk yang berkualitas, rutin produksi dan menemukan segmentasi pasar yang tepat sehingga penting untuk memahami bagaimana menyusun bisnis model canvasnya masing-masing,” kata Ketua Koperasi EKHA ini.
Untuk memahami secara langsung bagaimana praktik-praktik teknis dalam budidaya madu kelulut, peserta diajak ke Farm Edukasi Lebah Trigona yang ada di Kabupaten Kubu Raya.
Dalam kunjungan itu peserta belajar bagaimana melakukan pengembangan koloni Lebah Trigona dengan Teknik pemecahan koloni, sehingga untuk selanjutnya peternak tidak perlu menebang pohon di hutan untuk mengambil koloni yang ada di alam.
Praktik ini merupakan praktik baik yang mengajarkan agar petani bisa mengembangkan usaha madu kelulutnya dengan menerapkan prinsip keberlanjutan, sejalan dengan aksi mitigasi perubahan iklim.
“Kami berterima kasih atas terlaksananya kegiatan ini, karena sangat memberikan tambahan pengetahuan, keterampilan dan semangat kami untuk terus mengembangkan usaha madu kelulut,” ujar Rupinus, pengurus KUPS dari Kabupaten Bengkayang yang telah mengikuti kegiatan tersebut.
Tinggalkan Balasan