Gerakan Solidaritas di Tengah “Kesukaran Besar”

  • Whatsapp
Tenaga Ahli Ketua MPR RI, Viktus Murin/ISTIMEWA

KALBARSATU.ID – Pandemi Covid-19 telah mengubah secara hampir tuntas pola, cara, atau kebiasaan hidup umat manusia di bumi, tak terkecuali di sini, di negeri tercinta Indonesia. Manusia seolah dipaksa oleh keadaan untuk menjalankan tatanan dan atau pola hidup baru yang disebut dengan era “New Normal”. Perihal ini, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengaku lebih suka menyebutnya dengan istilah “Gaya Hidup Baru”.

Mengkritisi istilah New Normal yang digunakan pemerintah, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Profesor Dr. Alo Liliweri, MS berpandangan bahwa lebih tepat digunakan istilah “New Norm”, merujuk pada munculnya norma-norma baru dalam kehidupan sosial, atau lahirnya habitus baru (habits/cara/kebiasaan) yang baru masyarakat. Norma-norma baru itu sejatinya merupakan perulangan norma-norma lama yang telah terikat oleh larangan sosial sebagai panduan hidup kolektif. Lagi pula norma-norma baru itu lebih luas kandungan maknanya dari hal-hal yang bersifat normal belaka.

Bacaan Lainnya

Apapun diksi untuk menggambarkannya, yang pasti perubahan tatanan, pola, atau gaya hidup baru itu tetaplah beririsan dengan tiga keharusan tindakan dasar yang merujuk pada penerapan protokol kesehatan yakni mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak (social distancing). Dari perspektif yang lebih populis, tiga tindakan dasar protokol kesehatan ini yang oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo disebut sebagai gaya hidup baru. Benarlah adanya bahwa suatu kebiasaan yang baru haruslah terus dilakoni, agar kebiasaan baru itu menjadi gaya hidup (life style) yang melekat dalam tindakan nyata sehari-hari di ruang sosial.


Terlepas dari polemik soal istilah New Normal, hal yang paling urgent saat ini adalah bagaimana menguatkan solidaritas diantara sesama warga bangsa yang sedang ditimpa oleh “kesukaran besar” akibat pandemi Covid-19. Tidak dapat disangkal bahwa semua sektor kehidupan telah terdampak secara ekstrim oleh pandemi Covid-19. Strata sosial yang selama ini tersusun dengan kecenderungan berbasis pada kemampuan ekonomi atau kepunyaan barang-barang bernilai ekonomi, jabatan politik, dan atau gengsi profsi, kini perlahan tetapi pasti telah menjadi sumir.

Dampak Covid-19 tidak mengenal kelas dan status sosial, semuanya terhantam; kaya-miskin, kaum berpunya-fakir miskin, para pejabat-rakyat jelata, tua-muda, remaja-anak, dan kategori sosial lainnya. Ibarat kecurangan dalam lakon politik praktis, dampak Covid-19 menjadi agak mengerikan karena terindikasi bersifat terstruktur, sistematis, dan massif (TSM). Cermatilah dengan seksama dampak sosial-ekonomi Covid-19, bukankah nuansanya agak mengerikan? Namun, kengerian yang terbayang dari dampak Covid-19 dapatlah dimentahkan jika kita memiliki sekaligus menggerakkan solidaritas diantara sesama warga bangsa. Menggerakkan solidaritas! Inilah kunci sosial kita menghadapi Covid-19.

Pada masa-masa “kurva menaik” (berkorelasi dengan keberadaan ODP/orang dalam pemantauan dan PDP/pasien dalam pengawasan), sekira pada akhir Maret 2020 hingga hari-hari ini, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo terus-menerus berikhtiar menghidupkan gerakan solidaritas bagi warga bangsa. Hal serupa dilakukan pula oleh cukup banyak elemen, baik dari unsur pemerintah, swasta, maupun komponen masyarakat. Tulisan ini, hanya memberi fokus informasi pada gerakan solidaritas yang diinisiasi oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), mantan Ketua DPR RI yang pernah lama berkiprah sebagai wartawan dan pegiat dunia teater bersama sastrawan terkemuka mendiang WS Rendra. Gerakan solidaritas yang diinisiasi oleh Bamsoet kiranya boleh dijadikan sebagai role model untuk menggerakkan solidaritas di dalam komunitas-komunitas masyarakat.

Bersama organ bernama Gerakan Keadilan Bangun Solidaritas atau Gerak BS, yang bersinergi dengan Relawan 4 Pilar MPR, dan komponen profesi lainnya, Bamsoet telah menggulirkan berbagai program bernuansa solidaritas kemanusiaan, mulai dari distribusi bantuan paket sembako, vitamin, dan obat-obatan ke berbagai komunitas masyarakat, pemeriksaan rapid test secara berkala dan gratis, distribusi APD (alat pelindung diri) ke berbagai rumah sakit di daerah-daerah, hingga konser musik virtual untuk menghimpun dana penanganan Covid-19.

Gerakan solidaritas yang digagas Bamsoet merupakan manifestasi dari misi atau panggilan kemanusiaan, sekaligus ikhtiar sadar untuk lebih menampakkan fungsi moral dari lembaga MPR yang sedang dipimpinnya, yakni sebagai rumah besar kebangsaan dengan banyak bilik pluralitas. Gerakan solidaritas yang digulirkan Bamsoet juga bertujuan memperkuat laku budaya gotong-royong yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Terhadap gerakan solidaritas yang sedang digiatkannya, yang selain beroleh apresiasi dari masyarakat, tetapi juga ditanggapi nyinyir oleh segelintir pihak, Bamsoet dengan ramah dan elegan selalu berujar: “Berbagi itu indah”, atau “Lebih baik berbagi daripada menghujat”.


Pandemi Covid-19 telah melanda dunia dan mendatangkan kesukaran besar bagi umat manusia. Suka tidak suka, senang tidak senang, mau tidak mau, hari-hari ini kita mesti mengadaptasi apa yang mulai, sedang, dan terus berlangsung yakni gaya hidup baru, norma-norma baru, atau tatanan hidup baru. Mengingat pandemi Covid-19 ini telah menembus batasan ruang dan waktu secara biologis, sosiologis, maupun antropologis, maka hendaklah kita pun mengantisipasi munculnya komplikasi politis dan ideologis akibat pandemi ini.

Lebih penting daripada itu, dibutuhkan seruan moral yang terus-menerus dan keteladanan nyata dari para pemimpin di ranah pemerintahan, lembaga negara, lembaga agama, lembaga sosial-kemanusiaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, organ kemahasiswaan, dan komunitas lainnya dalam menghadapi atau menangani dampak Covid-19. Masyarakat terdampak Covid-19 yang sudah mengalami kesukaran besar, atau kesusahan hidup yang teramat perih, janganlah kiranya dihukum lagi secara psikologis dan moral oleh kecurangan dan tipu daya dalam bentuk paling halus sekalipun.

Dari ranah pemerintahan misalnya, transparansi dan keadilan dalam pengelolaan anggaran atau distribusi bantuan sosial kepada masyarakat terdampak Covid-19 hendaknya mesti dan selalu ditegakkan. Sikap berbelarasa, kejujuran, dan kebijaksanaan adalah sikap-sikap ksatria yang sudah semestinya menjadi “protokol moral” bagi para pejabat pemegang otoritas di seluruh level kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah. Betapa tidak, di tengah kesukaran besar yang melanda bangsa Indonesia akibat pandemi Covid-19, skandal apapun yang bersentuhan dengan keuangan negara, akan tercium seperti bau anyir sampah yang busuk. Dari aspek moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara, lebih-lebih aspek kemanusiaan, sungguh tidak patut bila terjadi skandal keuangan negara di tengah wabah yang melanda bangsa dan dunia.

Hari-hari ini, kesukaran besar akibat dampak Covid-19 masih terus berlangsung, dan belum akan berakhir, entah sampai kapan. Sebagai warga bangsa dan warga dunia, kita mesti terus berhati-hati dan tetap berhikmat, sehingga kita tidak terjebak dalam lingkaran setan dampak pandemi Covid-19 yang tidak berujung. Kehidupan memang mesti terus berjalan, begitu pun dengan era New Normal yang hari-hari ini mulai kita masuki dan lakoni. Kendati begitu, kita mesti tetap mawas diri untuk menjaga kesehatan secara pribadi lepas pribadi, agar kita tidak menjadi penyambung wabah Covid-19 ke sesama warga masyarakat yang lain.

Marilah kita patuhi setiap anjuran pemerintah perihal protokol kesehatan, sembari dengan sikap ksatria mengambil peran aktif untuk menguatkan gerakan solidaritas diantara warga bangsa demi menegakkan spirit sekaligus hakikat kemanusiaan kita. Sebagai warga bangsa, kita memang tidak luput dari kesukaran besar seperti yang terjadi sekarang akibat pandemi Covid-19.

Namun demikian, sebagai satu bangsa, kita pun patut bersyukur bahwa akibat kesukaran besar yang melanda kehidupan kita, nilai-nilai solidaritas seperti gotong-royong dan saling berbagi terus tumbuh bersemi bahkan berbuah. Dari perspektif transendental, inilah berkah terselubung yang dianugerahkan Tuhan Sang Pencipta kepada kita bangsa Indonesia. Nilai-nilai transendental itulah yang dalam praksis kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara termanifestasikan dalam nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, falsafah bangsa dan ideologi negara kita.

Sebagai satu bangsa, baiklah kiranya kita mau memetik hikmah kolektif dari peristiwa pandemi Covid-19, demi kematangan dan kedewasaan hidup kita sebagai bangsa. Kiranya hikmah kolektif itu mampu kita petik, dengan dicerahkan oleh kesadaran etik sebagai warga negara, yang terus berkomitmen dan konsisten merawat konsensus kebangsaan warisan Para Pendiri Bangsa (The Founding Fathers) yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, atau yang lazim kita kenal sebagai Empat Pilar Bangsa.

Penulis: Viktus Murin
Tenaga Ahli Ketua MPR RI

Pos terkait