Bedah Buku Muslimah Reformis Luruskan pendapat Keliru Tentang Perempuan

  • Whatsapp
Bedah buku
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama Komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP) dan Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak bedah buku Ensiklopedia Muslim Reformis yang ditulis oleh Prof. Musdah Mulia, yang juga sebagai pimpinan ICRP, Rabu (9/8/2020).

KALBARSATU.ID – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama Komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP) dan Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak bedah buku Ensiklopedia Muslim Reformis yang ditulis oleh Prof. Musdah Mulia, yang juga sebagai pimpinan ICRP, Rabu (9/8/2020).

Kegiatan yang dilakukan secara daring itu menghadirkan Subandri Simbolon, M.A (Peneliti dan Dosen Sekolah Tinggi Agama katolik Negeri Pontianak) dan Aseanty Widya Ningsih Pahlevi (Jurnalis dan Aktivis Perempuan) sebagai narasumber dan Isa Oktaviani sebagai moderator.

Subandri Simbolon menjelaskan buku Muslimah Reformis dalam konteks “Common Words” atau “Kata-kata bersama” yaitu sebuah naskah fenomenal yang lahir sebagai respon terhadap pidato Paus Benediktur XVI di Jerman. Naskah tersebut ditandatangi oleh 38 ulama dari seluruh dunia diikuti 138 tokoh Islam dari bebagai mazhab.

“Naskah Common Words berbicara tentang apa yang menyatukan, karena selama ini orang berbicara tentang apa yang membedakan,” sebutnya.

Menurutnya, buku Musliman Reformis memiliki peran yang sama seperti naskah Common Words. Melihat isu yang diangkat dalam buku ini bukan hanya sebagai isu agama saja, tetapi juga isu sosial yang digerakkan oleh perdamaian lintas agama.

“Jangan teman-teman melihat Muslimah Reformis ini buku Islam. No. Buku ini membuat saya berkaca. Apa yang sudah saya kerjakan berkaitan dengan isu-isu global. Isu-isu sosial. Perempuan, gender,” imbuhnya.

Ia juga menyebutkan bahwa buku ini lengkap membahas banyak isu, yang lebih penting adalah karena buku ini mengambil sudut pandang perempuan. Dikatakannya, hal dasar dan sangat penting yang ditekankan dalam buku ini adalah perempuan adalah manusia. Ini konsep dasar yang harus dipahami dalam memperjuangkan isu gender. Bukan sebagai gender kelas dua, tetapi sebagai manusia, sama seperti laki-laki.(*)

Penulis : Nings Lumbantoruan, Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak