Syarief Abdullah Buka Seminar Nasional untuk Pengusulan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional

  • Whatsapp
Pengusulan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional
Seminar Nasional Mengukuhkan ke-Indonesia-an melalui Pengusulan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional, di Pontianak, Sabtu (11/07/2020).

KALBARSATU.ID – Seminar Nasional yang diadakan oleh Badan Pengkajian MPR RI ini bertajuk Mengukuhkan ke-Indonesia-an Melalui Pengusulan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional.

Fraksi NasDem DPR RI – MPR RI sudah yang kedua kalinya menggelar seminar Sultan Hamid II, kali ini digelar di Pontianak, Sabtu, (11/07/2020).

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang sebelumnya digelar di Jakarta pada 2016 silam, turut hadir beberapa narasumber yang dianggap pakar dalam bidangnya untuk menelisik jejak perancang lambang Negara Republik Indonesia.

Jalannya acara dibuka secara langsung oleh Sekretaris Fraksi NasDem MPR RI, Syarief Abdullah Alkadrie.

Dalam sambutannya ia menjelaskan, Fraksi NasDem MPR RI memiliki keinginan dan meluruskan berkaitan dengan sejarah kenapa dalam hal ini MPR RI turut ikut serta dalam persoalan ini secara dejure Sultan Hamid melalui Surat Keputusan tinggi Menteri Kebudayaan sudah diputuskan bahwa beliau merupakan perancang simbol negara.

“Saya kira kita tidak akan mencari siapa yang salah yang benar tentu kita perlu melakukan pelurusan melalui kegiatan seminar ini dengan fakta fakta yang ada,” elasnya.

Syarief menguraikan bahwa Seminar Nasional ini untuk menggali dan meluruskan jejak sejarah Sultan Hamid II, karena adanya perbedaan persepsi yang muncul saat ini dirasa kurang mengindahkan.

Dalam hal ini Majelis Permusywaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melakukan kajian- kajian terhadap amandemen UUD 1945 apakah perlu dalam waktu dekat melakukan amandemen karena berkaitan dengan beberapa persoalan terutama berkaitan dengan Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

“Lewat inilah kita akan melaksanakan kajian- kajian, paling tidak kita akan melihat secara jelas,” terangnya

Selain itu tambahnya, ia mengenal dengan baik pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, W. R Soepratman, Penjahit sang Saka Merah Putih, Fatmawati, tentu berkaitan dengan ide dan pelaku bisa saja berbeda.

“Tapi tentu dalam hal ini, kita ingin mengetahui lambang Pancasila sebagai simbol negara sebagai lambang dan pemersatu bangsa, sampai sekarang ini tidak tercantumkan di UUD 1945, siapa perancang Lambang Negara Republik Indonesia, atau yang kita kenal dengan Burung Garuda Pancasila ?,” jelas Syarief Abdullah Alkadrie.

Apa yang disampaikan politisi NasDem itu cukup beralasan, sebab mengingat sosok perancang lambang negara Indonesia itu hingga kini seperti sejarah yang terlupakan.

Padahal, menurutnya, sang perancang adalah tokoh yang memiliki kontribusi nyata dalam eksistensi NKRI. Bukan sekadar merancang lambang negara, namun juga sosok pejuang kenamaan kemerdekaan dari Pontianak, bernama Syariaf Abdul Hamid Alkadrie. Pada masa hidupnya, dia menjabat sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Hamid II.

“Sultan Hamid II sudah diakui negara sebagai perancang lambang negara burung Garuda. Sultan Hamid II juga tidak terlibat dalam peristiwa westerling. Sehingga Fraksi Partai NasDem di DPR dan MPR akan terus mendorong Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional,” ungkapnya.

Seminar Nasional Pengusulan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan sejarawan, pemuda serta beberapa pejabat publik yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar).

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Webinar yang sebelumnya diadakan dengan menghadirkan Meutia Hatta yang merupakan anak dari Proklamator Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut pembicara utama yang dianggap memumpuni untuk menjelaskan sejarah tentang lambang negara. Mereka adalah H. Syarif Abdullah Alkadrie, Sekretaris Fraksi Partai NasDem MPR RI, Gubernur Kalbar Sutarmidji, Anggota DPR RI NasDem Charles Mekyansyah dan Yessy Melania, dan sebagai moderator adalah peneliti lambang Burung Garuda, Turiman Faturrahman Nur.

Narasumber pembanding adalah sejarawan Mahendra Petrus, peneliti Sultan Hamid II, Anshari Dimyati, Budayawan Ridwan Saidi, dan Mutia Hatta. (Ail)

Pos terkait