Prof Musdah Mulia Sebut Buku Muslimah Reformis Didasar pada Pembaca Perempuan

  • Whatsapp
Perempuan
bedah buku buku 'Ensiklopedia Muslim Reformis' yang digelar oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama Komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP) dan Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak, Rabu (9/8/2020).

KALBARSATU.ID – Prof Musdah Mulia mengapresiasi bedah buku buku ‘Ensiklopedia Muslim Reformis’ yang digelar oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama Komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP) dan Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak, Rabu (9/8/2020).

Apresiasi itu karena bedah buku yang ditulisnya itu menghadirkan pembicara yang relatif muda dan para peserta dari kalangan muda.

Bacaan Lainnya

“Dalam banyak forum, saya mengharapkan kalangan muda berbicara dalam isu-isu keagamaan, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Ternyata mereka juga hebat, tidak kalah dari kalangan tua. Saya selalu ingin melihat, bagaimana mereka merespon. Kali ini di Pontianak, meskipun pesertanya dari seluruh Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa buku yang ditulisnya itu disasar pada pembaca perempuan.

“Kenapa harus perempuan? Perubahan harus dimulai dari perempuan. Karena kalau perempuan tidak berubah, perubahan semacam apapun itu tidak banyak manfaatnya,” katanya.

Menurut dia, pada banyak kebudayaan, perempuan itu dianggap sebagai ibu. Sebab Ibulah yang membawa rahim dan proses kehidupan manusia. Kalau perempuan tidak cerdas, visioner, tidak banyak yang bisa kita harapkan.

“Contohnya Sarinah, seorang perempuan yang mengasuh Bung Karno dan berperan penting dalam kehidupan Bung Karno,” ujarnya.

Makanya ia mengapresiasi dua organisasi dari kelompok muda yaitu SAKA dan SADAP. Dikatakannya kelompok muda ini memberikan warna dalam pembangunan demokrasi di wilayah Kalimantan Barat.

“Penting sekali masyarakat sipil bersinergi, tidak berjalan sendiri-sendiri. Karena kita capek menghadapi Indonesia ini dengan penduduk 270 juta penduduk. Kalau bekerja sendiri-sendiri kita kehabisan energi nanti. Sehingga isu-isu yang kita lakukan, seperti membangun dialog lintas iman, bisa disinergikan dengan kelompok-kelompok lain yang juga memiliki visi dan misi yang serupa. Apalagi setelah reformasi, tantangan yang kita hadapi semakin pelik,” pungkasnya.(Editor)

Pos terkait